Satu hal yang harus dicamkan : Jangan pernah menunda-nunda dalam mengejar mimpi dan cita-cita. Segera lakukan perjalanan untuk meraihnya, apalagi jika kita masih muda. Bayangkan 20 atau 30 tahun lagi, pada saat itu Anda bisa tersenyum bangga mengenang masa muda dan tak ada pe­nyesalan dalam hati.

Ketika sudah memutuskan “Ya, saya’mau!” maka berse­geralah menyusun rencana dan menetapkan waktu untuk memulainya. Satu keistimewaan yang dapat kita perhatikan dari para awardee (penerima beasiswa) LPDP adalah mereka memiliki target dan dapat menentukan apa yang harus dikerjakan. Jika memang belum siap hari ini, bulan ini, atau tahun ini, lakukan segala hal yang dapat mempercepat dan mematangkan rencana perjalanan, seperti mencari informasi, bertukar pikiran, ber­tanya atau melakukah survei, dan melakukan observasi jika memang diperlukan,

Selain menyusun rencana, hal yang paling penting adalah memiliki keberanian untuk memulai. Kita tidak boleh takut gagal, tersesat apalagi takut menjadi sendirian. Kecewa karena gagal, bingung karena tersesat, dan kesepian karena kesendirian merupakan konsekuensi yang harus ditanggung dalam setiap petualangan, apalagi, dalam perjalanan meraih mimpi.

Keberanian merupakan’kunci untuk mengubah jalan hi­dup seseorang. Tanpa keberanian, kehidupan seolah jalan di tempat, tak ada kemajuan atau perbedaan yang dirasakan, dan mungkin akan terasa hambar. Apalagi jika kita memiliki mimpi dan cita-cita tinggi, misalnya ingin menuntut ilmu di universitas terbaik di luar negeri. Tentu untuk mewujudkan itu diperlukan keberanian yang sangat besar. Jika untuk mulai saja tidak berani, bagaimana mungkin kita sanggup menghadapi situasi dan kondisi baru dengan berbagai tan­tangannya di tempat yang jauh?

Jangan pula berpikir berlebihan (overthinking) pada saat merencanakan, apalagi saat sudah melakukan perjalanan. Merencanakan cukup seperlunya, dan ketika sudah di lapangan, jangan terlalu banyak berpikir lagi, Jalani saja dan lakukan yang terbaik.

Terkadang kita harus fleksibel dalam tindakan-tindakan kita. Fleksibilitas diperlukan saat kita harus beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang mungkin tidak selalu sama dengan harapan kita.Risiko akan selalu ada. Siapa pun tak bisa menebak bagaimana perjalanan yang akan ditempuhnya, apakah mulus tanpa halangan, menanjak, berbatu, atau harus melewati jurang. Oleh kareha itu, selain keberanian, seseorang juga harus memiliki kebesaran hati (kelapangan dada) saat menemui kesulitan dan rintangan dalam perjalanannya. Apalagi jika dia dihadapkan pada keadaan yang sama sekali tidak bisa diubah, misalnya kegagalan atau keputusan yang terlanjur salah. Jangan pernah menyesali keputusan yang telah kita buat matang-matang. We never know the future, but at least we can always try our best.

Dalam urusan berburu beasiswa, kegagalan tersebut dapat berupa tidak lolos seleksi beasiswa, ditolak kampus tujuan, tidak tembus tes bahasa Inggris, atau kegagalan memenuhi persyaratan lainnya. Seseorang mesti memiliki kebesaran hati untuk menerima konsekuensi pahit tersebut jika usahanya tidak berjalan mulus. Dia harus sanggup berlapang agar bisa berdamai dan menerimanya, membiarkannya berlalu sejenak, hingga akhirnya bahgkit untuk memulai lagi. Jika seseorang telah benar-benar memulai perjalanannya mengejar mimpi, hidupnya tak akan sama lagi. Setiap hari, akan ada perasaan menggebu-gebu dalam hati. Juga, di saat yang sama, akan ada perasaan takut dan gelisah yang menghantuinya. Rasa takut dan gelisah itu bagus Itu tanda bahwa ada hal berharga yang dia perjuangkan dalam hidupnya. Namanya, juga ‘mengejar’, berarti apa yang dikejar bisa dapat, bisa juga tidak. Selalu ada ketidakpastian yang memunculkan rasa takut dan gelisah. Akan tetapi, itulah yang membuat hidup menjadi lebih hidup”.